Warta DKI
FituredOpini

Menimbang Posisi Baru Gerakan Buruh di Era Prabowo

Menimbang Posisi Baru Gerakan Buruh di Era Prabowo

Menimbang Posisi Baru Gerakan Buruh di Era Prabowo

Oleh: Saskia Ubaidi

Hari Buruh tahun ini hadir dengan nuansa yang sedikit berbeda. Jalanan kemungkinan tetap dipenuhi massa, spanduk tetap terbentang, dan tuntutan tetap disuarakan. Namun, di balik itu terdapat pergeseran yang tidak kasatmata, tetapi cukup menentukan arah. Sebagian suara gerakan buruh kini berada di dalam sistem kekuasaan itu sendiri.

Presiden Melantik Hanif Faisol Nurofiq Sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Mohammad Jumhur Hidayat Sebagai Menteri Lingkungan Hidup

Masuknya Mohammad Jumhur Hidayat ke dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto menjadi penanda penting untuk membaca perubahan ini. Selama ini, Jumhur dikenal sebagai salah satu tokoh buruh dengan pengaruh kuat dalam dinamika ketenagakerjaan di Indonesia. Ia bukan sekadar figur birokrasi, melainkan bagian dari perjalanan panjang advokasi buruh, termasuk dalam isu pekerja migran dan kebijakan tenaga kerja.

Ketika figur seperti ini masuk ke dalam pemerintahan, yang bergeser bukan hanya posisi personal, tetapi juga relasi antara negara dan gerakan buruh. Selama bertahun-tahun, kekuatan buruh justru lahir dari jaraknya terhadap kekuasaan. Jarak tersebut memberi kebebasan untuk mengkritik, menekan, dan membangun solidaritas di luar sistem. Ketika sebagian representasi gerakan berada di dalam, batas antara tekanan dan negosiasi menjadi semakin cair.

Dalam praktik politik, langkah seperti ini bukanlah hal baru. Negara tidak selalu merespons tekanan melalui benturan langsung. Pendekatan tersebut mahal secara politik dan berisiko memicu eskalasi. Ada cara yang lebih halus, yaitu menyerap sebagian kekuatan oposisi ke dalam sistem. Energi kritik tidak menghilang, tetapi berubah bentuk. Energi tersebut bergerak dari jalanan menuju ruang perundingan.

Langkah ini dapat dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas. Pemerintah tidak harus berhadapan dengan seluruh tekanan dari luar jika sebagian legitimasi gerakan telah menjadi bagian dari dalam. Dalam situasi seperti ini, konflik tidak sepenuhnya hilang, tetapi menjadi lebih terdistribusi dan dalam banyak hal lebih terkendali.

Namun, realitas gerakan buruh tidak sesederhana satu nama atau satu posisi. Di lapangan, buruh tidak bergerak dalam satu suara tunggal. Ada banyak serikat, kepentingan, dan pengalaman yang tidak selalu terwakili oleh pihak yang berada di dalam pemerintahan. Bagi sebagian kelompok, kehadiran tokoh buruh di kabinet dapat menjadi peluang dialog. Bagi kelompok lain, justru muncul jarak baru antara elite gerakan dan basisnya.

Persoalan mendasar yang selama ini menjadi sumber tuntutan juga belum berubah secara signifikan. Upah minimum masih menjadi perdebatan. Pemutusan hubungan kerja tetap terjadi di berbagai sektor. Sistem alih daya belum sepenuhnya dibenahi. Kebijakan ketenagakerjaan masih menyisakan ruang kritik. Perubahan posisi di tingkat elite tidak serta-merta mengubah kondisi struktural di lapangan.

Dalam konteks ini, Hari Buruh 2026 kemungkinan tetap diwarnai aksi berskala besar. May Day bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari dinamika gerakan yang terus berulang. Namun, intensitasnya dapat mengalami pergeseran. Tuntutan tidak menghilang, tetapi sebagian dinamika kini bergerak di dua ruang sekaligus. Jalanan tetap menjadi arena ekspresi, sementara ruang kekuasaan menjadi arena negosiasi.

Di sisi lain, pemerintah memiliki ruang yang lebih luas untuk mengelola situasi. Pendekatan yang lebih akomodatif, komunikasi yang lebih terarah, serta kesiapan aparat dapat membuat eskalasi lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun demikian, kelompok buruh yang tidak terafiliasi dengan struktur besar dan tidak merasa terwakili tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi.

Yang sedang berlangsung bukan sekadar perubahan dalam skala aksi, melainkan perubahan dalam cara gerakan berinteraksi dengan kekuasaan. Hari Buruh tahun ini tidak hanya berbicara tentang tuntutan, tetapi juga tentang posisi. Hal ini berkaitan dengan bagaimana suara yang selama ini berada di luar mulai bergerak ke dalam, serta bagaimana pergeseran tersebut memengaruhi daya tekan yang selama ini menjadi kekuatan utama gerakan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan hanya apakah gerakan buruh akan tetap bersuara, melainkan bagaimana suara itu digunakan ketika sebagian telah berada di dalam kekuasaan. Daya tekan yang dahulu bertumpu pada jarak kini diuji dalam kedekatan. Apakah ia akan melemah, atau justru menemukan bentuk baru yang lebih efektif, masih menjadi proses yang terus berjalan. Di titik inilah Hari Buruh tidak lagi sekadar menjadi momen tuntutan, tetapi juga cermin untuk melihat arah dan masa depan gerakan itu sendiri.

Related posts

Perkara Pemalsuan, Keterangan Saksi Berbeda Dengan Bukti

Redaksi

Peresmian Masjid Jami Al Hasanah Nanggewer dan Haul KH.Ujang Sidik

Redaksi

Dakwaan Jaksa Memenuhi Unsur Hakim Tolak Eksepsi Hendra Lie

Redaksi

SMAN 1 Ciomas Mengadakan Outing Class Projek Kolaborasi Mata Pelajaran

Redaksi

NU Depok: Tadarus Budaya Ramadhan Pendekatan Dialog Budaya Memperkuat Persatuan

Redaksi

Operasi Kepolisian Mantap Brata, Polres Bogor Lakukan Pengamanan Kampanye Pemilu 2023-2024 

Redaksi

Leave a Comment