STIE Indonesia School of Management (ISM) Menempati Gedung Baru

Depok – Berdasarkan SK Mendikbud RI nomor 591/D/O/2014 ,STIE Indonesia School of Management (ISM) Akhirnya dapat menempati gedung baru di Komplek Sudirman Indah, Tigaraksa, Tangerang,dimana sebelum nya STIE ISM berada di Cikokol pindah.

Ketua Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Uman Suherman mengatakan bahwa dari puluhan perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat dan Banten, 93 di antaranya telah di akreditasi sedangkan selebihnya mendapatkan akreditasi terdaftar dan di samakan.

“Total 475 Perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat, kalau kita lihat, Baru sekitar 20 persen perguruan tinggi yang telah di Akreditasi jadi masih sangat jauh,itu pun Akreditasi C sebanyak 23 perguruan tinggi Akreditasi B sebanyak 23, dan Akreditasi A sebanyak 1 perguruan tinggi sisah nya Akreditasi Terdaftar dan Disamakan,” jelasnya Sabtu (22/04/2017).

Namum demikian menurut Suherman Kondisi ini jauh lebih baik di bandingkan dengan kondisi yang berada di luar pulau Jawa. Untuk itu pihaknya berharap untuk tidak menurunkan semangat pengelola pendidikan tinggi swasta untuk meningkatkan kualitasnya, seperti yang dilakukan STIE ISM yang akan meningkatkan menjadi universitas.

“Kedepan saya harapkan, STIE ISM bisa menjadi universitas,” ungkapnya.

Ketua Pembina Yayasan STIE ISM, H.M Hardiana memaparkan bahwa motivasi awal didirikannya STIE ISM ini pada tahun 1997 adalah untuk turut serta dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan SDM bangsa Indonesia. STIE ISM terdiri dariprogram studi Menajemen ( S1 ) dan program pasca sarjana, Magister Manajemen (S2) berdasarkan SK Mendikbud RI nomor 88 / D/ O / 1997.

Pemindahan gedung STIE ISM dari Cikokol ke Tigaraksa adalah untuk menunjang mutu dan kebutuhan yang semakin meningkat. Maka ISM membangun kampus terpadu 4 lantai diatas tanah seluas 1 hektar dikawasan Tigaraksa, Kab. Tangerang.

Gedung kampus baru ini sudah dilengkapi dengan sarana prasarana yang lebih baik, seperti ruang belajar  yang lebih nyaman (AC), perpustakaan, ruang dosen, laboratorium, lapangan futsal, serta lahan parkir yang cukup luas.

“Target kami adalah bagaimana warga menengah ke bawah mendapat akses kepada dunia pendidikan seluas-luasnya dengan biaya yang sangat terjangkau,” papar Hardiana.

Sementara itu, masih dilokasi yang sama, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Sawsta Indonesia, Budi Jatmiko menjelaskan rendahnya kualitas perguruan tinggi di tanah air akibat minimnya bantuan dari pemerintah. Kendati secara kuantitas jumlah perguruan tinggi di tanah air sebanyak 90% namun bantuan pendidikan untuk perguruan tinggi swasta hanya 10%.(yopi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here