DKI Jakarta – Arseto Pariadjie deklarasikan ormas baru dengan nama Persatuan Demokrasi dan Toleransi Indonesia (PDTI) sebagai sebuah ormas yang konsen terhadap demokrasi dan toleransi. Dengan mengelar jumpa pers dengan Wartawan Nasrani di kawasan Kelapa Gading Jakarta Utara belum lama ini. Arseto Suryoadji Pariadjie sekaligus menjabat ketua umum PDTI.

“Berdirinya ormas tersebut untuk mengajak seluruh komponen bangsa yang berada di Jakarta untuk bersama-sama membangun demokrasi kedepan agar berbagai persoalan dan masalah di tanah air khususnya di Jakarta dapat diselesaikan dengan musyawarah mufakat,  apalagi kita saat ini sedang mengadapi Pilkada DKI.  Dalam pilkada kali ini sudah mengarah kepada kebencian sehingga timbul isu-isu sara yang mengabaikan toleransi” kata Arseto

Arseto Suryoadji Pariaji merupakan putra dari pendeta Kharismatik Yesaya Pariadji gembala jemaat Gereja Tiberias Indonesia (GTI),  sebagai warga Jakarta yang notabene pemeluk agama Kristiani benar – benar  merasa terganggu. Adanya isu tidak sedap didengar ketika bertemu dan bergaul dengan teman yang beragama lain merasa tak nyaman karena kadung ada ungkapan-ungkapan rasis.

“Kok begini sih Pilkada dengan mengkafir-kafirkan orang lain,ini membuat saya sebagai pribadi tidak nyaman karena kita ini hidup dialam demokrasi yang seharusnya kita harus saling menghargai tapi terjadi muncul seperti kebencian ”tandasnya prihatin.

Kemudian sambung Seto terkait dengan persidangan Basuki Tjahaja Purnama yang dituduh menista agama alangkah baiknya di stop saja. Karena ini terkait Basuki salah satu paslon dalam pilkada artinya masalah yang menyangkut hukum ditunda dulu hingga selesai pilkada agar tak terjadi kegaduhan. “Apa yang saya sampaikan itu akhirnya terlaksana di mana akhirnya  Kapolda menunda persidangan Basuki,”ujarnya

Sebagai tokoh muda yang peduli akan kehidupan yang toleransi Arseto sangat berharap bisa bertemu langsung dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Tujuannya bertemu  untuk menyampaikan agar presiden berani menindak tegas pelaku-pelaku intoleran terlebih yang menebar teror atau teroris. Langkah presiden mengundang para ulama dalam rangka meminta para ulama untuk menjaga kerukunan beragama itu sangat tepat. Namun disisi lain Pak Jokowi harus lantang menyuarakan kehidupan toleransi sehingga tidak ada lagi teroris yang melempar bom dan sebagainya.

Arseto punya keinginan ikut serta memberikan pandangan atau masukan kepada petinggi negara ini agar siapapun baik partai maupun ormas stop menggunakan cara-cara intoleransi.diambil tindakan tegas  Karena ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab mereka menggunakan isu Sara menjadikan Pilkada gaduh. Untuk itu dalam pilkada DKI, siapapun yang membuat gaduh itu, walaupun pilkada usai harus tetap diusut kalau perlu ditangkap saja sambungnya. Tak peduli mereka semata tujuannya politik Pilkada saja. Agar ke depan tidak terulang melakukan kampanye dengan cara-cara yang tak benar hingga membuat toleransi terancam.

Ketika ditanyakan sikap PDTI sendiri tentang dukungannya diarahkan ke paslon mana, dengan tegas Arseto menuturkan, ” banyak teman-temannya ada di kubu Anies Sandi, namun bukan berarti mendukung mereka. PDTI sebuah organisasi yang menjunjung toleransi terang Arseto jadi arahnya jelas pasti memberikan dukungan  bagi pasangan yang toleran yang selalu memperjuangkan kebenaran dan keadilan” katanya. (Philipus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here