Wartadki.com|Jakarta, — Menjelang waktu berbuka puasa pada Rabu (4/3), suasana Nomu Cafe di kawasan Mahakam, Jakarta Selatan, terasa berbeda dari biasanya. Sejumlah penulis puisi esai berkumpul dalam sebuah ruang literasi untuk membaca karya, berdialog, dan berbagi refleksi tentang kehidupan melalui puisi.
Pertemuan bertajuk Merawat Hati dengan Puisi Esai ini diinisiasi oleh Denny JA Foundation sebagai ruang pertemuan bagi para penulis dan pembaca puisi esai. Kegiatan ini menjadi ajang berbagi pengalaman menulis, membaca karya, sekaligus mendiskusikan gagasan di balik perkembangan puisi esai sebagai medium sastra yang mengangkat realitas sosial.
Acara dibuka dengan kata pengantar yang disampaikan oleh Nita Lusaid, Direktur Denny JA Foundation. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak dimaksudkan sebagai seminar formal ataupun peluncuran buku.
“Ini adalah ruang sederhana untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia, sekaligus merawat hati melalui puisi esai,” ujar Nita.
Puisi esai sendiri diperkenalkan oleh Denny JA sebagai bentuk karya yang mempertemukan bahasa puitis dengan fakta sosial. Dalam bentuk ini, puisi tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai medium refleksi atas berbagai persoalan kehidupan manusia.
Dalam puisi esai, bahasa puitis berjalan berdampingan dengan fakta. Empati terhadap pengalaman manusia bertemu dengan data yang dijelaskan melalui catatan kaki. Dengan cara ini, pembaca tidak hanya merasakan keindahan kata, tetapi juga memahami konteks sosial yang melatarbelakanginya.
Dalam diskusi yang berlangsung sore itu, Jamal D. Rahman, penulis buku Kitab Puisi Esai, menjelaskan bahwa puisi esai memadukan dua disiplin sekaligus, yakni disiplin sastra dan disiplin akademik.
“Puisi esai memadukan disiplin sastra dengan disiplin akademik. Karena itu, riset menjadi bagian penting dalam proses penulisannya,” ujar Jamal.
Menurutnya, terdapat beberapa unsur penting dalam penulisan puisi esai. Estetika bahasa tetap menjadi fondasi utama sebagaimana dalam puisi pada umumnya. Selain itu, kehadiran catatan kaki berfungsi menjelaskan latar sosial atau fakta yang melandasi cerita. Penokohan juga menjadi elemen penting agar realitas sosial yang diangkat terasa hidup dalam karya.
Jamal menambahkan bahwa puisi esai dapat dinikmati melalui berbagai cara pembacaan. Puisi dapat dibacakan terlebih dahulu sebagai karya puisi, kemudian diikuti dengan penjelasan melalui catatan kaki yang memperkaya konteks sosialnya. Sebaliknya, catatan kaki juga dapat dibacakan lebih dahulu sebagai pengantar diskusi sebelum puisi disampaikan kepada audiens.
Dengan pendekatan tersebut, puisi esai tidak hanya hadir sebagai karya sastra yang dibaca secara personal, tetapi juga menjadi medium percakapan bersama. Dalam suasana pertemuan yang santai dan akrab, pembacaan puisi dan diskusi para peserta berlangsung hangat, menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi cara lain untuk memahami kehidupan sekaligus merawat kepekaan hati terhadap realitas sosial. (Saskia Ubaidi)

