Bogor  – Sungguh sangat memperhatinkan  nasib Sumirah (54) nenek tua yang berprofesi sehari-hari sebagai pedagang jamu keliling, dirinya harus pasrah dengan segala kondisi keterbatasan yang dimiliki.

Pasalnya, dia yang hanya hidup sebatang kara di gubuk reot berukuran 3×4 meter persegi di Kampung Pekapuran, RT 01 RW 05 Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, itu harus menerima pahit getirnya kehidupan tanpa ada pihak terkait yang memperhatikan kondisi keadaannya tersebut dari pemerintah Pemkab Bogor.

Sumirah mengaku, dirinya yang telah menempati gubuk reot itu sudah di huninya sejak tiga puluh tujuh (37) tahun silam, dimana hingga kini tak adanya sentuhan bantuan apapun untuk merenovasi tempat tinggalnya itu yang keadaannya sangat memprihatinkan.

“Iya saya sudah 37 tahun telah menempati rumah ini yang hanya terbuat dari bilik bambu Awi saja,” kata Sumirah ketika ditemui WartaDKI.com, Selasa, (23/5)

Parahnya, wanita tua itu yang telah menempati tempat kediamannya sejak puluhan tahun tersebut, dirinya hanya tinggal seorang diri tanpa adanya sosok seorang suami dan anak yang menemani dalam mengisi kesehariannya di sisa umurnya itu.

“Saya sudah 27 tahun pisah dengan suami, dan anak pun tidak punya meski sudah menikah dua kali dengan orang jawa maupun orang sini,” ungkapnya dengan nada rendah.

Padahal pemkab Bogor selalu menggalakkan program Rumah Tidak Layak Huni ( Rutilahu) salah satu program unggulan guna menuju Kabupaten Termaju di Indonesia, namun nyatanya hanyalah isapan jempol belaka. Jangankan di daerah bagian timur dan Utara wilayah Kabupaten Bogor,  nyatanya di kecamatan ibukota Kabupaten Bogor seperti di Kecamatan Citereup ini masih ada yang sangat memprihatinkan tempat tinggalnya.

Meski begitu, Sumirah tetap tegar menjalani kehidupannya tersebut tanpa ada keluarga disampingnya. Namun ia sempat menitipkan harapan, jika dirinya yang berpenghasilan hanya Rp 50 ribu rupiah dari hasil menjual jamu gendongnya tersebut, dimana ia mengaku sangat menginginkan jika tempat tinggal nya itu dapat diperbaiki agar layak dihuni seperti hunian rumah pada umumnya.

“Walaupun kondisi saya seperti ini, saya tetap jalani kehidupan dan profesi menjual jamu dengan senang hati. Tapi saya berharap jika pemerintah desa setempat maupun Kecamatan bisa membantu untuk merehab rumahnya saya ini agar layak huni seperti kediaman warga lainnya,” harapnya.

Ketika disinggung, apakah dirinya mengetahui jika pemerintah daerah yakni Pemkab Bogor maupun provinsi dan Pusat telah menggulirkan program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ke pemerintah desa setempat tiap tahunnya, sehingga dapat diberikan kembali ke masyarakatnya yang memiliki rumah tak layak huni seperti kediamannya tersebut. Sumirah mengaku. “Saya tahu ada program tersebut, dan mana dulu pernah ada staf desa Tajur maupun ketua RT setempat mengatakan jika saya akan mendapat bantuan RTLH itu. Namun itu hanya omongan kosong tanpa adanya bukti yang nyata,” nada kesal Sumirah.

Lebih lanjut ia membeberkan, jika kedatangan beberapa staf desa dan ketua RT setempat terjadi saat 2014 silam, dan ia menganggap hal itu terkesan hanya memberi angin segar kepadanya tanpa ada bukti yang pasti.

“Saat ini saya hanya berharap kepada pemerintah agar bisa lebih bijak dan bisa lebih memperhatinkan lagi golongan masyarakat bawah dalam membantu masyarakatnya, yah seperti nasin saya ini. Kami juga kan memiliki harapan jika rumah yang saya tempati ini bisa layak seperti keluarga pada umumnya, jangan hanya mengumbar janji-janji manis saja tanpa adanya bukti yang nyata,” pungkasnya. (Wawan/ Anwar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here