Warta DKI
Politik

Papua Bagian Integral Dari NKRI, Bukan Dekolonisasi tapi Pemberontakan

Pemerhati Papua dan Pakar Politik Internasional Prof. Imron Cotan bahwa Papua bagian dari NKRI. Pernyataan tersebut tanggapan atas adanya sekolompok warga Papua memperingati sebagai Hari Proklamasi West Papua. Menurutnya, perubahan perbatasan Negara disebabkan beberapa hal diantaranya: Dekolonisasi, perang perbatasan, damai. “Sementara, yang di Papua itu mereka merasa Dekolonisasi. Dari tiga hal itu, tidak bisa disamakan dengan Papua. Sebab, Papua itu adalah bagian dari NKRI,”ujarnya seusai menjadi Narasumber Webinar Moya Discussions Grup bertajuk: “Ilusi 1 Desember”.
Menurutnya, saat ini sedikitnya ada 17 wilayah non self governing terytoris (wilayah yang belum punya pemerintah merdeka). Diantaranya: Samoa, Bermuda Islan, Virgin, Polinesia, Guam, New Caledonia, Virgin Island Foxland (malvinas di Argentina) dan lainnya. Menurutnya, mereka membawa permasalahannya untuk dibicarakan di Komite Dekolonisasi PBB. “Papua karena bagian integral NKRI, bukan ditetapkan wilayah yang bukan tidak punya Pemerintah yang merdeka,” terangnya.
Papua Bagian Integral Dari NKRI, Bukan Dekolonisasi tapi Pemberontakan
Dirinya menambahkan, Negara yang merdeka berdasarkan konvensi Montevideo memiliki beberapa syarat. Diantaranya: populasi permanen, Pemerintah, kemampuan membangun hubungan dengan Negara lain dan pengakuan dari Negara lain. Bahkan, lanjutnya, Daerah tidak boleh melakukan kegiatan seperti: pertahanan, agama, pajak dan hubungan Luar Negeri.
“Berdasarkan Konvensi Internasional OPM sebagai pemberontak atau sparatis. Sebab, Papua adalah bagian dari Indonesia. Di Negara lain, sparatis ditumpas habis seperti ETA di Spanyol dan lainnya. Sparatis tidak ada kompromi harus ditumpas habis dan memang ditangani secara militer. Tidak ada urusan HAM, dan dunia memahaminya. Di Indonesia, masih menggunakan pendekatan kemanusiaan dan kesejahteraan. Berhentilah ilusi Papua pernah merdeka atau akan merdeka. Mari bangun dari mimpi indah, yaitu dengan membangun Papua yang kita cintai sejajar dengan Propinsi lain,”paparnya.
Moya Institute dan WAG Unity in Diversity (UiD) menggelar Moya Discussions Grup bertajuk: Ilusi 1 Desember. Dengan Narasumber: Dubes Prof. Imron Cotan (Pemerhati Papua dan Pakar Politik Internasional), Willem Frans Ansanay (Ketua Bamus Papua dan Papua Barat), Ali Kabiay (Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua) dan Moderator: Hery Sucipto (Dir Moya Institute/LHKI-PP Muhammadiyah).

Related posts

Relawan Jokowi Ingin Kenal Lebih Dekat Wali Kota Solo Gibran

Redaksi

Komunitas Milenial Depok Dukung Cak Imin Capres Ini Alasannya

Redaksi

PCNU Depok Minta Polresta Depok Jaga Netralitas Di Pilkada

Redaksi Wartadki

Peringati HSN Pimpinan Ponpes dan MT Depok Doakan Ganjar-Mahfudz

Redaksi

DPRD Kabupaten Bogor Menggelar Rapat Paripurna Mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden

Redaksi

Aktivis NU Depok KH. Asror Mukrom Wafat, Afifah Hadir Takziah

Redaksi Wartadki

Leave a Comment