Wartadki.com|Bandung, — Ketua Projo Kota Depok Abdul Rahman menyoroti Jawa Barat dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan memberikan solusi.
Menurutnya, jika melihat potret Indonesia hari ini secara instan datanglah ke Jawa Barat. Dengan yang hidup di dalamnya, Jabar adalah miniatur asli dari semua masalah sekaligus potensi yang dimiliki Indonesia.
“Provinsi ini punya kontras yang luar biasa ekstrem. Di utara, tepatnya di koridor Bekasi sampai Subang, berdiri kawasan industri modern terbesar se-Asia Tenggara,”ujarnya seusai acara Konferda Projo Jabar 2026 “Konsolidasi Total Menuju Projo Yang Solid dan Terorganisir, Hotel Horison Bandung.
Menurutnya, Jabar bukan sekadar provinsi dengan penduduk fiktif atau sekumpulan Kota penyangga Jakarta.
Meski begitu, lanjutnya, jika bergeser ke wilayah selatan kondisinya berubah dengan infrastruktur masih terbatas dan akses layanan dasar masih jadi barang mewah.
“Kontras inilah yang membuat Tatar Sunda selalu menjadi kompas dan penentu arah politik Nasional,”jelasnya.
Pabriknya Banyak, Tapi Nyari Kerja Kok Susah?
Jawa Barat itu magnetnya duit. Setiap tahun, nilai investasi yang masuk baik dari luar maupun dalam negeri selalu juara satu Nasional dengan nilainya menembus Rp 210 triliun. Sederhananya, pabrik baru terus tumbuh.
“Tapi di sinilah letak anehnya. Angka pengangguran di Jabar justru masih masuk jajaran tertinggi di Indonesia, nangkring di kisaran 6,74%–6,77% Kenapa bisa begitu,”katanya.
Salah satu jawabannya adalah krisis kelas menengah urban. Warga di kota-kota seperti Depok, Bekasi, Bogor, dan Bandung hari ini sedang pusing tujuh keliling. Mereka terjebak di antara:
Gempuran teknologi: Pabrik-pabrik mulai pakai AI dan robot, plus sistem kerja kontrak (outsourcing) yang bikin masa depan buruh jadi abu-abu.
“Dompet yang makin tipis: Gaji pas-pasan dari gig economy, tapi harus bayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, dan harga beras yang hobi naik. Ditambah lagi, industri padat karya seperti tekstil lokal mulai bertumbangan karena kalah saing dengan barang impor murah,”keluhnya.
“Hasilnya ? Ekonomi tumbuh, tapi lapangan kerja malah menyusut.
Sekolah Tinggi, Tapi Kurang “Nyambung” dengan Zaman. Bagi keluarga di Jabar, pendidikan masih dianggap sebagai jimat untuk mengubah nasib,”katanya.
Abdul menyayangkan dunia pendidikan yang belum bisa lari cepat mengikuti perkembangan zaman. Di perkotaan, lanjutnya, setiap tahun disuguhi drama yang sama. Seperti: fenomena rebutan kuota zonasi sekolah negeri atau pusing melihat biaya sekolah swasta yang makin mahal.
“Di pelosok desa, fasilitas sekolah dan jaringan internet masih megap-megap. Faktanya, rata-rata lama sekolah warga Jabar baru menyentuh 8,9 tahun atau baru lulus kelas 3 SMP,”terangnya.
Pekerjaan rumah terbesarnya adalah miskoneksi kurikulum. Banyak lulusan SMK yang bingung saat lulus karena keahlian mereka tidak cocok dengan industri modern yang sekarang serba digital dan otomatis.
Macet, Banjir, dan Peringatan dari Alam
Sebagai tetangga terdekat ibu kota, wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) harus menampung pergerakan 2,5 juta komuter setiap hari. Meski sekarang sudah ada LRT, KRL, tol baru, hingga Kereta Cepat Whoosh, urusan transportasi dari rumah menuju stasiun (dan sebaliknya) masih jadi biang kerok kemacetan yang menguras emosi dan dompet warga.
“Laju pembangunan yang kebablasan juga bikin alam protes. Sungai Citarum dan Ciliwung masih terseok-seok melawan limbah,”jelasnya.
Sementara itu, kawasan hijau di Puncak dan Bandung Utara terus dipangkas demi vila dan tempat wisata. Akibatnya jelas: banjir bandang, longsor, dan suhu kota yang makin gerah (urban heat island).
“Untungnya, masyarakat Jabar mulai sadar. Pembangunan itu jangan cuma ngebut, tapi juga harus ramah lingkungan,”katanya.
Dari DI/TII, Medsos, Hingga Gurita Oligarki
Orang Sunda aslinya punya karakter yang egaliter alias blak-blakan dan tidak suka sekat feodal. Ditambah kultur pesantren yang kuat, agama punya pengaruh besar di sini.
“Tapi, peta politiknya tidak pernah monolitiksangat cair karena ada banyak kelompok dari yang tradisional hingga anak muda yang hijrah lewat konten TikTok,”tuturnya.
Sejarah mencatat, Jabar selalu jadi wilayah yang “berisik” secara politik. Mulai dari era pemberontakan DI/TII pasca-kemerdekaan, hingga era Reformasi sekarang. Di Jabar, tidak ada partai yang bisa mengklaim diri sebagai penguasa abadi. PKS, Golkar, Gerindra, dan PDIP selalu bergantian menang.
Dengan 35 juta lebih pemilih, Jabar adalah lumbung suara paling diperebutkan. Ia menambahkan, karakter pemilihnya pun unik. Digerakkan oleh algoritma: Mereka lebih melihat figur yang asyik di media sosial (TikTok atau Reels) ketimbang ideologi partai (attention economy).
Sinisme publik muncul ada rasa bosan karena ongkos politik yang mahal akhirnya melahirkan oligarki. Dikatakannya, kebijakan jadi lebih sering membela modal besar dibanding nasib buruh atau petani kecil.
“Polarisasi digital melalui perang urat saraf antar pendukung dan pasukan buzzer di dunia maya pelan-pelan merusak kebersamaan kita,”tandasnya.
Garis Akhir: Membaca Masa Depan Kita
Jawa Barat adalah laboratorium hidup Indonesia. Di tempat ini, lanjutnya, urusan perut (ekonomi), urusan hati (agama/budaya) dan urusan masa depan (teknologi) saling bertubrukan setiap hari.
Dirinya menilai anak muda Jabar sekarang sudah tidak terlalu mempan disuapi slogan-slogan politik atau janji manis ideologi. Mereka lebih peduli pada hal-hal nyata: apakah besok ada lowongan kerja yang layak? Apakah kesehatan mental mereka aman? Dan apakah mereka masih bisa melihat lingkungan yang bersih ?
“Siapa pun yang punya ambisi memimpin Indonesia di masa depan, mereka harus bisa menaklukkan hati warga Jawa Barat terlebih dahulu,”terangnya.
Caranya bukan dengan modal pencitraan, melainkan dengan formula kepemimpinan yang transparan, adil, ramah digital, dan berpihak nyata pada rakyat kecil.
“Jika tidak, demokrasi kita hanya akan jadi rutinitas lima tahunan yang kehilangan jiwanya,”tandasnya.

