Warta DKI
Berita UtamaFituredPendidikan

Mahasiswa UPER Kembangkan Biobriket Ramah Lingkungan Dari Limbah Sorgum

Mahasiswa UPER Kembangkan Biobriket Ramah Lingkungan Dari Limbah Sorgum

Wartadki.com|Jakarta, — Kerap dikaitkan dengan citra konsumtif akibat besarnya pembelanjaan pendapatan yang mencapai 360 miliar dolar AS pada 2021 (Bloomberg), preferensi Generasi Z terhadap isu lingkungan justru terus meningkat. Survei global Deloitte (2025) menunjukkan 65 persen Generasi Z merasa khawatir terhadap kondisi lingkungan, dengan tingkat kekhawatiran di Indonesia bahkan mencapai 89 persen.

Sejalan dengan itu, laporan First Insight (2024) mencatat 62 persen Generasi Z memilih produk berkelanjutan dan 73 persen bersedia membayar lebih, menandakan internalisasi nilai keberlanjutan dalam keputusan ekonomi generasi muda sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam penciptaan solusi berbasis lingkungan.

Mahasiswa UPER Kembangkan Biobriket Ramah Lingkungan Dari Limbah Sorgum
Mahasiswa UPER Ni Kadek Karina Dewi Memaparkan Hasil penelitian Biobriket Ramah Lingkungan Dari Limbah Sorgum

Salah satu wujud konkretnya ditunjukkan oleh Ni Kadek Karina Dewi dan Haykal Sulthan Hakeem, mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina (UPER), melalui pengembangan inovasi biobriket ramah lingkungan berbahan limbah sorgum bernama Bionghum Patalabana.

“Inovasi ini berangkat dari persoalan tingginya limbah pertanian pasca panen sorgum yang dapat mencapai sekitar 40 ton residu per hektare dan hingga kini belum termanfaatkan secara optimal.

Melalui Bionghum, kami mengolah limbah tersebut menjadi biobriket ramah lingkungan agar memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi,” ujar Karina.

Bionghum dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti arang konvensional. Bionghum tersebut juga menghasilkan emisi karbon 32 persen lebih rendah.

Selain lebih ramah lingkungan, Bionghum juga memiliki daya bakar yang lebih efisien, mampu menyala hingga dua jam, dua kali lebih lama dibandingkan arang konvensional yang rata-rata hanya bertahan sekitar satu jam.

Dalam implementasinya, Bionghum tersebut mengusung konsep sustainable socio-ecopreneurship serta prinsip circular economy, dan carbon offset dengan melibatkan komunitas petani sorgum sebagai mitra produksi. Hingga saat ini, Karina sudah bekerja sama dengan tiga kelompok petani sorgum di Bali, sebagai mitra awal.

Selain mengurangi limbah, inovasi Bionghum juga membawa dampak ekonomi bagi petani sorgum dan sejalan dengan agenda pengembangan ekonomi hijau nasional yang berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja baru hingga 2030 (Bappenas, 2023).

Karina menjelaskan bahwa pendapatan petani turut mengalami peningkatan hingga 40 kali lipat per bulan melalui pengolahan limbah sorgum menjadi Bionghum bernilai jual lebih tinggi.

“Peningkatan ini tidak hanya menaikkan pendapatan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, meningkatkan keterampilan pengolahan pascapanen, dan memperkuat posisi petani dalam rantai nilai energi bersih,” ujar Karina.

Melalui inovasi tersebut, Karina bersama tim berhasil melaju ke Final Pitch–Top 7 kategori Early Stage Startup (ESS) Pertamuda Seed and Scale 2025, program pengembangan wirausaha muda PT Pertamina (Persero), setelah melalui serangkaian seleksi ketat, mulai dari penilaian pitch deck, elevator pitch, bootcamp, hingga demo day, dan mengungguli ribuan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Rektor Universitas Pertamina, Prof.Wawan Gunawan A. Kadir,  menegaskan bahwa capaian mahasiswa dalam ajang Pertamuda Seed and Scale 2025 merupakan hasil dari ekosistem inkubasi bisnis yang dibangun secara konsisten di UPER.

Sejak tahun 2016, UPER telah menjalankan program inkubasi bisnis yang menaungi ratusan mahasiswa dan puluhan tim usaha rintisan dari berbagai bidang, termasuk energi terbarukan, ekonomi sirkular, teknologi, dan industri kreatif.

“Melalui program inkubasi bisnis, kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menghasilkan ide, tetapi mengembangkannya menjadi solusi nyata yang menjawab persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Inovasi seperti Bionghum menunjukkan bahwa mahasiswa mampu membaca masalah riil dan mengolahnya menjadi peluang usaha berkelanjutan,” ujar Prof. Wawan.

Related posts

Tabayyun Dengan Ucapan Plt Bupati Bogor, Ulama Dan Ormas Islam Sepakat Jaga Kondusifitas 

Redaksi

Pengamat: Fenomena Sekolah Sepi Murid Perlu Penyelesaian Segera

Redaksi

Kapolda Bali Beri Arahan Saat Kunjungan Kerja Ke Polres Gianyar

Redaksi

Jaringan Indonesia Positif Mendorong Penanganan HIV  Yang Terintegritas dengan Penanganan Kekerasan di Sektor Kesehatan

Redaksi

Tim Cyber Crawling Bea Cukai Batam Amankan 765 Gram Ganja, Diselundupkan dalam Kaleng Makanan

Redaksi

Asah Kemapuan Personil Lapas Narkotika Nusakambangan Latihan Bersama Kopasus

Redaksi

Leave a Comment