Konflik Internal DPD RI Masih Terus Berlanjut

DKI Jakarta-Sidang paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Selasa (11/04) berlangsung ricuh. Suara gemuruh dan teriakan yel-yel para anggota bergemuruh di dalam ruangan sidang yang menolak sidang dilanjutkan.

Para anggota secara terbuka lakukan protes, menolak Oeman Sapta Odang (Oso) memimpin sidang karena dianggap ilegal. Mereka memprotes kepemimpinan Oso yang dianggap ilegal karena inkonstitusional. Sidang dengan agenda mendengar laporan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sekaligus penyerahan laporan oleh Ketua BPK Harry Azhar Azis. Ini merupakan sidang perdana yang dipimpin OSO sebagai ketua DPD yang baru setelah dilantik beberapa waktu lalu.

Kegaduhan dipicu oleh protes keras diiringi cacian dan interupsi para anggota yang ditujukan senator asal Riau Intsiawati Ayus dan senator asal Jambi Juniwati yang mempersoalkan tentang dualisme kepemimpinan di DPD RI.

Kepemimpinan seperti ini kata dia, sudah di luar kelajiman dan membingungkan publik. Protes itu kemudian ditanggapi senator asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Adrianus Garu, yang tidak sependapat adanya dua kepemimpinan.

Kata Adrianus, tidak ada kepemimpinan ganda, ini adalah pimpinan yang sah dan sudah dilantik. “Sudah clear, sah menurut hukum, kenapa saudara-saudara saat paripurna kemarin walk out. Kenapa baru dipersoalkan sekarang,”teriaknya.

Keadaan semakin runyam karena semua senator saling sahutan meminta kepada pimpinan sidang untuk diberi kesempatan berbicara. Sidang pun sempat diskors selama 15 menit dengan diisi sahut-sahutan para senator.

Agar situasi kembali tenang, Ketua DPD yang baru, Oso mencoba berbicara. Dia meminta senator yang ingin menyampaikan pendapat untuk mendaftarkan dirinya terlebih dahulu, setelahnya diberi kesempatan berbicara. Namun, Intsiawati cs pun masih saja berebut agar diberikan kesempatan berbicara, sehingga sidang pun kembali di skors.

Setelah diskors, OSO pun kembali membuka sidang dan menyerukan agar seluruh senator yang hadir bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selang beberapa lama sidang kembali dilanjutkan dengan hujan interupsi. Ada yang mengatakan bahwa pimpinan DPD yang duduk di depan tidak sah secara hukum, namun ada juga yang bilang sah. OSO pun membuka sidang dengan tetap dihujani interupsi.

Salah satu anggota DPD pun mempersoalkan tentang Intsiawati dan Juniwati Cs yang tidak mengisi daftar hadir tapi mau mengikuti sidang. Mendengar itu, Intsiawati dan Juniwati Cs pun menanyakan apa dasar keputusan tersebut.

Riuh suara interupsi pun berhenti setelah semua mikrofon di meja anggota dan pimpinan mati secara mendadak. OSO kemudian berbicara dengan menggunakan mikrofon cadangan.

Namun Intsiawati dan Juniwati masih saja menyampaikan aspirasinya. Merasa suaranya tak didengar karena mikrofon mati, mereka berdua pun maju ke meja pimpinan.

OSO kemudian mempersilahkan Wakil Ketua DPD Nono Sampono untuk membacakan agenda sidang. Namun Intsiawati dan Juniwati enggan beranjak dengan tetap berdiri di depan meja pimpinan.

Belasan senator yang tidak setuju dengan kepemimpinan OSO pun meninggalkan ruang sidang untuk menuju ruang delegasi. Di sana sudah ada Senator GKR Hemas yang sebelumnya menjabat wakil ketua. Mereka pun menyerahkan laporan masa reses ke Ratu Yogyakarta tersebut.(dewi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here