Warta DKI
Ragam

Himpuh: Kasus Jamaah Umrah Gagal Berangkat Masih Akan Berlanjut

Wartadki.com | DKI Jakarta – Setelah musibah besar menimpa calon jamaah umrah dari First Travel yang gagal berangkat pada 2017 lalu, diawal tahun 2018 hal yang sama kembali terjadi.
Di Riau, sebanyak 700 calon jamaah umrah yang dijadwalkan berangkat pada  akhir 2017 lalu oleh Joe Pentha Wisata, namun mengalami nasib mengejutkan karena ternyata gagal untuk berangkat. Penyebabnya diduga dana para calon jamaah digelapkan oleh bos penyelenggara umrah itu.
Atas kasus penyelenggaraan umrah yang terus saja meletup, Himpunan Penyelenggara Haji dan umrah (Himpuh) memberi tanggapan, bahwa kasus agen perjalanan gagal berangkatkan para jamaahnya itu sudah diprediksi sejak waktu yang lampau.
“Himpuh sudah memberi warning dari tahun 2012.Bulan Maret 2012, Himpuh sudah melakukan seminar yang melibatkan semua pihak termasuk Kementerian Agama, Kepolilsian, MUI, YLKI, yang dimana disitu kita menyatakan akan terjadi bom waktu gagal berangkat massal,” ujar Muharom Ahmad, Ketua Hubungan Kelembagaan & Kehumasan Himpuh saat ditemui di kantornya, Kamis (11/1/2018).
Ia juga mengungkapkan indicator atau diduga penyebab meledaknya kasus-kasus penyelenggaraan umrah, adalah karena diterapkannya sistem atau pola Ponzi oleh para travel yang terjerat kasus dalam melakukan rekrut menjamaah.
Sistem Ponzi dalam penyelenggaraan umrah adalah pembayaran dari dua orang untuk memberangkatkan satu orang yang telah membayar lebih dulu, atau bayar dua berangkat satu.
“Kita menganalisis bahwa ada dua  hal, yakni pola  rekrutmen dan harga yang tidak sehat.Dua hal jika diterapkan, maka travel sebesar apapun pastiakan bermasalah dan cepat atau lambat akan collaps,” lanjut Muharom.
Meledaknya kasus First Travel pada 2015, masih menurut Muharom, atau kasus-kasus lainnya adalahd ampak  dari “bomwaktu” yang telah dipasang jauh sebelum kasus itu terangkat.
“Seperti yang juga terjadi awal tahun ini, adalah jamaah yang mendaftar pada dua tahun sebelumnya.Dan jika masih ada travel yang menggunakan pola-pola yang tidak sehat, maka bisa diprediksi bahwa masih akan ada kasus serupa yang akan terjadi,” terangnya.
Untu kitu Himpuh menghimbau agar masyarakat jangan sampai mengambil pertimbangan semata-mata hanya dari harga.Jangan mudah tergiur dengan harga murah, tetapi harus kritis, karena jika harganya tidak rasional pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem.(Ganest)
 
 
 
 

Related posts

Jabodetabek Berpotensi Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang

Redaksi

Disdukcapil Kejar Target 100 Persen Perekaman E-KTP

Redaksi

BKN Tetapkan NIP 16.642 Pengawai Tenaga Kontrak

Redaksi

Pemkot Bogor Telah Luncurkan 28 Perizinan Dengan Aplikasi Smart

Redaksi

Maria Kembali Mencari Keadilan di Pengadilan

Redaksi

Program Pro Rakyat Harus Menjadi Prioritas

Redaksi

Leave a Comment