Bogor – Diawali pemutaran video peresmian Teras Salapan Lawang Dasakersa (TSDL), Wali Kota Bogor Bima Arya mengawali sambutannya dalam kegiatan Peluncuran dan Diskusi Buku Bogor Zaman Jepang 1942-1945 dan Bogor Masa Revolusi 1945-1950 di Lantai III Gedung  Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia (UI) Depok, Rabu (08/03).

Usai pemutaran video peresmian TSLD yang menampilkan tulisan “Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga” yang artinya apa yang dinikmati hari ini adalah hasil kerja keras para leluhur dan apa yang kita perbuat hari ini akan dinikmati anak cucu dikemudian hari.

“Inilah filosofi yang luar biasa yang ditemukan dalam kitab dimasa lalu.
Alasan kami memasang motto Kota Bogor di Tepas Salapan Lawang Dasakersa ini adalah cara untuk menyampaikan kepada generasi muda tentang kearifan lokal dan sejarah yang terus mengalir dari masa ke masa,” kata Bima kepada semua yang hadir dalam acara.

Menurut Bima, sejarah adalah salah satu cara untuk memprediksi dan memenangkan masa depan. Buku Bogor Zaman Jepang 1942-1945 dan Bogor Masa Revolusi 1945-1950 yang menceritakan sejarah perjuangan para tokoh Bogor adalah hal yang luar biasa, karena menghantarkan kembali legenda Kota Bogor yang mulai dilupakan. Selain itu, buku ini juga menempatkan kembali Kota Bogor dalam sejarah perjuangan nasional, tidak banyak orang yang mengetahui jika Kota Bogor adalah kota PETA (Pembela Tanah Air), mulai dari  Panglima Besar Jendral Sudirman hingga Soeharto memulai pendidikan militernya dari PETA
Kota Bogor.

“Dengan membaca buku ini kita diingatkan kembali sejarah perjuangan Kota Bogor sebagai bagian dari perjuangan nasional,” ungkapnya.

Selain sejarah, buku ini menceritakan para tokoh dan figur Kota Bogor yang luar biasa, figur yang lengkap dimana mereka tidak hanya sebatas tokoh agama tetapi juga ilmuwan, yang tidak hanya membaca kitab, tetapi juga mengangkat senjata.

“Bahkan dua kata yang menggambarkan sosok Abdulah bin Nuh adalah pistol dan tasbih. Dijalan sebagai panglima angkat senjata membela negara, tapi juga berdakwah untuk membela agama, selain itu ada dimensi lain dari para tokoh ini, prestasi yang dicetakpun tidak hanya lokal tapi nasional bahkan global. Jadi, lihat, baca, pahami dan teladani tokoh yang ada jika generasi muda ingin sukses,” tegas Bima.

Dijelaskannya, pesan terakhir dalam buku tersebut yakni Republik Indonesia (RI) dibangun dengan cara menyandingkan antara nasionalisme dan agama, tidak ada dikotomi atau perbedaan antara nasionalisme, bernegara, berwarga negara bahkan menjadi ulama.

“Jika Bogor ditarik menjadi radikal dan seolah menjadi sarang fundamental, maka Bogor telah keluar dari khitahnya, melenceng dari suratnya. Bagi kami ini keteladanan luar biasa yang harus diturunkan dari generasi ke
generasi juga kebanggaan sebagai orang Indonesia, bangga sebagai muslim dan bangga sebagai orang Bogor, itu semua paralel,” urainya.

Ayah dua anak itu menegaskan, anak muda saat ini harus memiliki nasionalisme kosmopolitan yang tidak hanya “jago kandang”tetapi juga memiliki patriotisme ditingkat nasional dan tetap menjalin hubungan ditingkat global.

“Itulah yang bisa kita lihat dari buku-buku ini. Semoga menjadi teladan bagi kita semua,” ujarnya.

Ia juga berharap dapat menjalin kerjasama dengan Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) untuk mengetahui semua tentang penelitian buku, riset, skripsi dan sejarah Bogor untuk dijadikan buku agar para generasi muda Bogor mengetahui betapa luar  biasanya Bogor.(Humas pemkot bogor :rabas/indra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here