Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan Yang Dapat Mengganggu Kelangsungan Hidup Bangsa

DKI Jakarta – Diskusi Panel Serial (DPS) yang ke-5 kembali digelar pada hari Sabtu (02/09) lalu di Merak Room, JCC. Acara diskusi kebangsaan yang diselenggarakan bersama FKPPI, Suluh Wantara Sakti, dan Aliansi Kebangsaan dengan tema pokok “Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa”. Dalam seri ke-5 kali ini mengangkat sub tema “Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) yang Dapat Mengganggu Kelangsungan Hidup Bangsa.”

Hadir dalam Diskusi Panel Serial ke-5 ini adalah Mayjen TNI Toto Siswanto yang mewakili Letjen Nugroho Widyotomo (Sesjen Wantanas), Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri selaku Ketua Umum PPAD, dan Letjen TNI (Purn) Agus Wijoyo selaku Gubernur Lemhanas, yang menjadi narasumbernya.

Dalam Pemaparan mengenai apa itu Wantanas, Mayjen Toto Siswanto menjelaskan apa saja fungsi dan tugas utama dari Wantanas (Dewan Ketahanan Nasional), yang antara lain Wantanas adalah sebuah Lembaga nonstruktural yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.Tugas utamanya adalah membantu Presiden dalam menyelenggarakan pembinaan ketahanan nasional guna menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia.

“…tema diskusi ini sangat relevan dengan apa yang sedang bangsa Indonesia hadapi dalam melanjutkan perjuangan yang penuh tantangan, guna mengisi kemerdekaan yaitu pembangunan menyeluruh menuju cita-cita nasional,”jelas Toto.

Sementara Narasumber kedua Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri mengangkat tema mengenai pembelajaran dari keruntuhan Uni Soviet (USSR), Yugoslavia, dan lepasnya Timor Timur dari NKRI. Kiki menjelaskan bahwa runtuhnya Uni Soviet sebagai salah satu Negara Adidaya disebabkan bukan dari peperangan yang menimbulkan banyak korban. Sebagai negara dengan wilayah yang sangat luas, Indonesia sama seperti USSR serta secara demografis memiliki jumlah penduduk yang sangat besar pula. Namun Tingkat Kesulitan kita lebih tinggi, karena sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki kemajemukan yang jauh lebih luas. Maka itu kita harus lebih berhati-hati. Berbeda dengan Yugoslavia yang dengan keberagaman etnisnya menimbulkan konflik perang saudara dengan menimbulkan banyak korban jiwa, yang diperparah dengan keruntuhan negara tersebut.

Lebih jauh Kiki menjelaskan bagaimana proses terjadinya atau lepasnya Timor-Timur dari pangkuan ibu pertiwi, dimana saat itu beliau kebetulan bertugas sebagai Panglima Darurat disana. Ada beberapa faktor utama yang terjadi namun seakan lepas dari pemberitaan seperti punahnya kearifan lokal (lembaga adat), pemaksaan dalam sistem pemerintahan pasca integrasi, perilaku aparat pendatang, serta adanya campur tangan Barat (UNAMED) dan juga kasus pelanggaran HAM. Hal-hal ini berefek pada timbulnya kecurangan saat pengambilan suara (adanya kecurangan dari UNAMED) dan kesulitan dalam berdiplomasi sehingga menguntungkan pihak yang pro kemerdekaan.

Inilah yang saat ini juga menjadi AGHT bangsa Indonesia dalam perjuangan mengisi kemerdekaan. Bukan ancaman perang senjata, melainkan adalah peperangan secara mental dan psikologi, yang istilah trennya adalah perang Hybrida.

Pembicara ketiga Letjen TNI (Purn) Agus Wijoyo selaku Gubernur Lemhanas yang menekankan pada aspek bagaimana bangsa Indonesia menilai dan menghadapi masalah AGHT ini? Bahwasanya Ketahanan Nasional adalah merupakan tanggung jawab pemerintah dan seluruh warga Negara.

Inti dari diskusi kali ini adalah setiap warganegara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bela negara demi menjaga kelangsungan hidup bangsa. (Iwan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here